Gedung Putih Itu

Witte Huis Indonesia

Nama julukannnya dahulu Witte Huis (Gedung Putih) sering disebut juga Groote Huis (Gedung Besar) merupakan gedung yang menjadi saksi bisu sejarah bangsa ini sejak kebangkrutan VOC, masa kolonial Belanda, masa pendudukan Inggris, jaman Jepang dan bahkan sesudah kemerdekaan hingga kini.

Gedung Departemen Keuangan RI

Pada masa penjajahan Belanda gedung ini dikenal juga dengan nama Paleis Te Weltevreden (Istana Weltevreden). Welteverden yang berarti “benar-benar puas” adalah area yang digunakan sebagai pusat pemerintahan dan militer dimana cakupannya terdiri dari Gambir dan Lapangan Banteng sekarang batasnya sebelah utara Postweg dan Schoolweg (kini Jl Pos dan Jl Dr Sutomo di Pasar Baru), sebelah timur de Grote Zuidenweg (Gunung Sahari – Pasar Senen), dan selatan Kramat Raya sampai Parapatan.

Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memindahkan pusat pemerintahan dari daerah Kota Batavia Lama (sekarang kawasan Kota Tua) ke Weltevreden pada 1808 dikarenakan wabah penyakit yang melanda kalangan Belanda saat itu akibat lingkungan yang tidak bersahabat di daerah Kota Tua sekarang. Bahkan Batavia sampai mendapat julukan Het Graf der Hollander (kuburan orang Belanda).

Lapangan Banteng sendiri mendapatkan namanya ketika Bung Karno akan membangun Tugu Pembebasan Irian barat ia terkenal dengan ucapan “Kita adalah bangsa banteng, bukan bangsa tempe” nama pertama Lapangan Banteng adalah Paviljoenveld atau Lapangan Pavilioen dikarenakan pemilik pertamanya seorang pedagang VOC yang bernama Antony Pavillioen dimana pada saat itu (pertengahan abad 17) masih berupa hutan belukar yang penuh dengan binatang buas. Pada masa kampanye Pemilu 1955 terjadi peristiwa lucu di Lapangan Banteng ketika PKI berkampanye jurkamnya menyatakan, ”Jangan pilih Masyumi, nanti Lapangan Banteng diganti jadi Lapangan Onta.” Kemudian giliran jurkam Masyumi membalas, ”Jangan pilih PKI nanti Lapangan Banteng diganti menjadi Lapangan Merah.”

Saat ini Paleis Te Weltevreden lebih dikenal dengan nama Gedung Induk Departemen Keuangan (pada 2008 diganti menggunakan nama Gedung A.A. Maramis I) dengan alamat resmi Jl. Lapangan Banteng Timur No.2-4 Jakarta Pusat 10710. Gedung ini menampilkan bentuk arsitektur Doric pada tiang-tiang dan pilar Lantai dasar dan Lantai II sementara tiang dan pilar di Lantai III menggunakan gaya Ionic.

Gedung Induk Departemen Keuangan RI

Gedung Induk DepKeu

Gedung Induk Departemen Keuangan

Tangga gedung Induk DepKeu

Di bagian dasar Gedung dekat tangga untuk naik ke lantai II ada sebuah batu dengan tulisan :

MDCCCIX

CONDIDIT DAENDELS
MDCCCXXVIII
EREXIT DU BUS

Batu tersebut merupakan batu terakhir pembangunan Gedung ini. Bila diartikan baris pertama berarti tahun gedung ini mulai dibangun tahun 1809, baris kedua yang memprakarsai pembangunan gedung ini yaitu Gubernur Jenderal Daendels. Pada baris ketiga tahun selesainya dibangun 1828 dan pada baris keempat Gubernur Jenderal yang berkuasa saat pembangunan selesai yaitu Gubernur Jenderal Du Bus (Leonardus Petrus Josephus Burggraaf Du Bus de Ghisignies). Total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan Gedung ini adalah 19 tahun (di website Depkeu ada kesalahan ketik dimana disebutkan 29 tahun). Proses pembangunan Gedung ini sendiri dikepalai oleh seorang perwira Belanda yang bernama Letnan Kolonel J.C. Schultze, yang pernah terlibat juga membangun gedung Societeit De Harmonie (sudah dihancurkan pada 1985 untuk perluasan Jalan Majapahit). Banyak dari bahan bangunan yang digunakan dalam pembangunan Paleis Te Weltevreden berasal dari bahan-bahan bekas bangunan Kastil Batavia (yang letaknya di Jalan Pasar Ikan sekarang).

Ada rencana Gedung bersejarah ini akan dijadikan Museum Keuangan, sementara berbagai unit Departemen Keuangan dan Menko Ekuin yang masih berkantor di Gedung Induk akan dipindahkan ke Gedung baru yang sedang dibangun oleh Departemen Keuangan di bekas Komplek Siliwangi (Komplek perumahan anggota TNI-AD yang bertugas di Kodam Jaya/dahulu Kodam Siliwangi) tepat di seberang komplek Gedung Induk yaitu Gedung E Depkeu Tower I dan Tower II. Dalam foto dibawah tampak suasana pagi Gedung Induk, Gedung Utama dan Gedung E Depkeu Tower I yang telah selesai dibangun dan sudah digunakan (Tower II masih dalam proses pembangunan).

Gedung Departemen Keuangan E Tower

Sejarah Witte Huis dapat dibaca juga di Sejarah Departemen Keuangan perhatikan pada bagian dengan judul Gedung Kuno Itu.

Tautan lain :


profile-avatar Vicong
Menulis apapun yang dianggap menarik.

Respons

Ada 8 respons untuk “Gedung Putih Itu”.

  1. wheew ..
    ternyata oh ternyata …..

    thanks infonya .. 😉

    vic: makasih kunjungannya pak

  2. yemima

    Ko kayanya aslinya gedungnya ga sebagus potonya ya..
    hehehe.. :p

    weks berarti skill mhoto saya bagus dong *gr*

  3. busway

    oh… begitu ya, sejarah gedung ini….
    berarti sekarang sudah 180 tahun…..
    pantesan…..
    hantunya dah banyak…..

    ku pernah numpang pip disitu… tahun 2001
    WCnya nggak pake closet….
    cuma, ruangan sekitar 3x 3 terus ada bata untuk posisi kaki (jongkok) terus ditengahnya ada lobang pembuangan…..

    jadi primitif banget deh……..
    tapi bangga juga, masih ada………… gedung…. asli bersejarah………….

  4. eka redianto

    saya sangat suka dengan gaya bangunan eropa jaman dulu karena desain arsitektur dan relief nya sangat indah dan artistik, apalagi jika bangunan itu bergaya romawi kuno atau gaya prancis.

  5. rika

    itu di amerika apa di indonesia

  6. Samsul Anwar

    E.e. busway kamu jadi orang terbuka juga ych….???pantesan Wc sampe sekarang masih bau…,berarti gara-gara kamu donk bikin baunya……

  7. abanglo

    Asli gua dah masuk ke dalam gedung ini baru beberapa hari lalu …..buener buener ….serem man dan nuansanya sama seperti kita masuk ke gedung gedung tua warisan belanda …mirip lorongnya sama gedung lawang sewu ..challenge nich buat dunia lain kalau berani tes di gedung ini ..

Beri Respons