St. Hall

Ketika bersekolah di Cimahi salahsatu angkutan kota (angkot) yang sering saya naiki adalah trayek St. Hall – Cimahi, saya membacanya sebagai Saint Hall karena mengira memang ada daerah di Bandung dengan nama tersebut sama seperti Pasteur yang diambil dari nama Louis Pasteur. Beberapa bulan kemudian baru saya tahu itu dibaca sebagai Stasiun Hall, nama lain untuk Stasiun Bandung dan nama inilah yang paling sering diucapkan oleh warga Bandung dan sekitarnya.

Stasiun dengan ketinggian 709 meter dari permukaan laut ini sendiri diresmikan pada 17 Mei 1884, bersamaan dengan dibukanya jalur kereta Batavia (Jakarta) – Bandung melalui Bogor dan Cianjur. Sementara lintas Batavia (Jakarta) – Bandung melalui Purwakarta dibuka pada tahun 1906. Dirancang oleh  Ir. EH De Roo, bangunan lama (terutama terlihat pada Pintu Selatan) merupakan desain keempat yang dibangun pada 1928.

Pintu Utara

Pintu Utara (2009)

Pintu/Peron Utara sendiri baru dibangun pada masa Indonesia yaitu pada tahun 1990, untuk warga yang baru tiba di Bandung atau akan ke luar Bandung dengan menggunakan kereta kelas bisnis dan eksekutif pintu utara ini lebih sering diakses dan itulah yang biasanya teringat.  Di sebelah Pintu Utara ini terdapat pangkalan angkutan travel 4848 yang dulu pernah berjaya, sementara di seberang Pintu Utara terdapat pangkalan bus DAMRI tujuan luar kota (yang saya ingat ada tujuan Bandar Lampung). Pintu Utara ini memiliki alamat resmi Jalan Kebon Kawung Nomor 43 Bandung.

Pintu Selatan

Pintu Selatan (2012)

Sementara Pintu/Peron Selatan yang memiliki alamat resmi Jalan Stasiun Timur Nomor 1 pada awalnya merupakan pintu utama dan satu-satunya. Hiasan kaca patri bergaya Art Deco pada Pintu Selatan ditambahkan ketika terjadi perluasan stasiun pada 1909 yang dilakukan atas rancangan arsitek FJA Cousin.

Tetapi saat ini pintu selatan lebih dikenal oleh warga yang menggunakan kereta lokal untuk bepergian antar wilayah Bandung. Keluar pintu selatan terdapat terminal angkot dan berbagai tempat makan murah meriah salahsatunya adalah Kios Sate Kambing M. Hadori salahsatu kios sate tertua di Kota Bandung yang kabarnya sudah berjualan dari 1950-an. Dengan berjalan kaki sedikit dari Pintu Selatan melintasi terminal angkot bisa sampai ke Pasar Baru yang terkenal sebagai salahsatu pusat penjualan pakaian murah di Kota Bandung.

DSCF0841

Monumen Replika Lokomotif Uap Seri TC 1008 (2009)

Di Pintu Selatan juga  diletakkan sebuah replika lokomotif uap seri TC 1008, replika lokomotif ini menggantikan monumen 1.000 lentera karya Ir. EH De Roo yang merupakan penghargaan dari pemerintah Kota Bandung pada masa Hindia Belanda atas peran penting Stasiun Bandung dalam menggerakkan roda ekonomi.

Tentunya semua warga Bandung bahkan luar Bandung yang pernah ke sini punya kenangan sendiri, saya pribadi punya kenangan sangat banyak dengan stasiun ini yang merupakan titik utama untuk menuju berbagai tempat di wilayah Kota Bandung menggunakan KRD (Kereta Rel Diesel) Padalarang-Cicalengka dari Cimahi, terkadang menggunakan angkot St. Hall-Cimahi tadi tapi yang ini lebih jarang karena masalah ongkos yang kemahalan. Dan ketika sudah tinggal di Jakarta stasiun ini pula yang sering disambangi ketika menggunakan kereta mulai dari Parahyangan, Argo Gede sampai terakhir dengan Argo Parahyangan.

DSCF0840

Suasana Dalam Stasiun Hall (2009)

DSCF0842

Peron Stasiun Hall (2009)

IMG_1363

Pemandangan Dari Atas Jembatan Penyeberangan (2008)

Pranala luar:

 


Lokasi St. Hall

My location
Get Directions
profile-avatar Vicong
Menulis apapun yang dianggap menarik.

Respons

Ada 1 respons untuk “St. Hall”.

  1. Komentator

    ahahah.. saya juga bacanya Saint Hall.. 😀

Beri Respons